Saya cinta kota ini. Karena saya lahir dan besar di sini. Saya pernah dua
tahun hidup di Riau tapi selalu saja merindu Makassar.
Tapi kalau ditanya orang apa/mana, saya bingung juga menjawabnya. Soalnya
kedua orangtua saya perantau, bukan asli Makassar. Ayah saya dari tanah Bugis
(campuran Wajo – Soppeng) sementara ibu saya dari Gorontalo. Meski Bugis dan
Makassar adalah dua suku yang “bersaudara”, bahasanya berbeda.
Saya sendiri?
Memang saya tak bisa bercakap dengan bahasa Makassar, pun tak mengerti bahasa
ini. Saya sehari-harinya bercakap dengan bahasa Indonesia dialek Makassar,
seperti kebanyakan masyarakat sini. Dan ... saya suka dialek ini.
Kedua orangtua saya punya dialek bawaan, berasal dari bahasa ibu mereka.
Merantau ke Makassar (Ayah tahun 1950-an, Ibu tahun 1960-an), membuat logat
bicara mereka terpengaruh dialek Makassar. Hingga sekarang tetap terdengar
kalau mereka bukan penutur asli dialek ini.
Sementara saya dan adik-adik, jelas sangat fasih dengan bahasa Indonesia
dialek Makassar. Seperti tetangga kami yang orang Jawa, orangtua mereka masih
terdengar logat Jawanya tetapi anak-anaknya sudah berbicara persis seperti
kami. Tak ada dialek Jawa dalam cara bertutur mereka.
Musik tradisional di acara pernikahan |
Kalau meneliti cara bertutur Ayah, masih terdengar cukup wajar bila dialek
Bugisnya berbaur dengan dialek Makassar. Yang agak aneh, dialek Ibu. Untuk
orang sini, pasti kentara kalau Ibu saya bukan asli dari sini. Sementara kalau Ibu
pulang kampung, orang-orang Gorontalo merasai logat bicara Ibu aneh. Lucu juga,
“jati diri” bertuturnya jadi punya karakter unik setelah sekian tahun hidup di
Makassar.
Begitu pun pilihan redaksi kata-katanya. Ambil contoh jika Ibu berbicara
dengan Ayah seperti ini: “Ngana ini
Pak. Jangan begitu, ambil mo.”[1] Agak
aneh, yang lebih tepat adalah, “Ngana ini
Pak. Jangan begitu, ambil mi.”
Beberapa kali, saya bisa mengenali logat orang-orang utara, terutama
Gorontalo ketika berbicara dalam dialek Makassar. Saya pernah menebak seorang
ibu begini, “Ibu dari utara ya? Dari Gorontalo?” Ia heran kenapa saya bisa
tahu. Saya bilang, terdengar dari logatnya.
Oya, komunitas orang Gorontalo di sini banyak sekali lho, ada banyak pertemuan mereka.
Untuk arisan saja Ibu saya mengikuti 3 macam arisan khusus orang Gorontalo.
Belum komunitas lain. Bahkan
sepupu-sepupu saya banyak yang hidup di sini karena menikah dengan orang sini
atau bekerja di sini. Bahkan ada sebidang tanah yang dijadikan kuburan
orang-orang Gorontalo di Samata (Gowa). Makassar sudah menjadi kampung mereka,
mereka ingin menghembuskan nafas terakhirnya di kota ini. Orang Gorontalo cukup
banyak mewarnai Makassar, seperti halnya orang-orang dari daerah lain mewarnai
kota ini.
Inilah sekelumit latar belakang saya, Kawan. Bagaimana pun itu, kota
Makassar ada di nomor urut satu kota kecintaan saya. Pernah merantau di awal
pernikahan, membuat saya benar-benar menyadarinya. Bagi saya, pulang ke Makassar
adalah pulang kampung. Makassar adalah senyaman-nyamannya kota bagi saya.
Makassar, 20 April 2013
Postingan ini disertakan dalam #8MingguNgeblog Anging Mammiri
Silakan juga
disimak:
[1]
“Ngana
ini Pak. Jangan begitu, ambil mo.”Maksud
kalimat ini adalah: “Kamu ini Pak. Jangan begitu, ambil saja.”
Share :
Makassar memang ok....rindu kampung halaman....
ReplyDeleteKapan pulang? :)
Deletekalau yang model kebalik - balik itu makasar juga bukan ya misalnya "mau kemana kamu andi"... umumnya kan "andi mau kemana"...
ReplyDeleteKebalik ya kdengarannya mas? Kalo di sini, wajar saja hehehe. Iya, kalo dalam dialek sini, "Mo ko ke mana Andi?" Tapi ndak selalu begitu juga sih. Kalo Andinya ndak nengok2 ditegur maka kalimat itu jadi, "ANDI, MO KO KE MANAKAH?"
Deletewaah sya sudah lama tidak balik makassar Sob,,,mungkin nanti kalau ada tes CPNS baru saya balik lagi ke Makassar...
ReplyDeleteNdak rindu Makassar sob? :)
Deletemakassar itu mengingatkanku pada Pantai Losari n masjid terapungnya :)
ReplyDelete:)
DeleteMakassar itu kayak rumah kedua, saking agak miripnya budayanya dng Kendari.
ReplyDeleteIya ya .. kelihatannya mirip
Deleteapalagi saya, blasteran campur aduk, yang tak ada sedikitpun darah makassarnya, juga bugisnya,
ReplyDeletenamun bagaimanapun Makassar adalah kampung halaman-ku yang tercinta, i love makassar :-)
Bhinneka TUnggal Ika ki' di'? :)
Deletesaya belum pernah ke makassar, tapi pengen ke sana, icip2 kulinernya bang, habis kata temen saya yang ayahnya kerja di sana makanannya enak2 ^^
ReplyDeleteKulinernya asyik2 mbak. Tapi hiks ... diriku bukan seorang "BANG". Diriku pernah melahirkan 3 orang anak :(
Deletekota yang dari 5 tahun yang lalu pingin saya kunjungi salah 1 nya makasar mbk :D
ReplyDeletekalo ke Makassar, kabar2i ya mbak :)
Deletemakassar itu sesuatu, aseekkkk....mudik adalah sesuatu yang sangat dinantikan olehku, jika perlu lebaran itu tiap bulan saja, hahahahaha :D
ReplyDeleteMudik yuuuuuuuuuuuuk :)
Delete