Banyak
member Renner yang menghadiri pengajian di lantai 2 gedung Renner. Kami duduk
“mengarpet” (bukan melantai karena duduknya di atas karpet). Tak lama kemudian
pak ustadz masuk dan segera membuka tausiyah-nya.
Tausiyah
dimulai dengan
sedikit perjalanan hidup pak ustadz yang sempat hampir lupa dengan Allah
namun kemudian menemukan hidayah yang membawa berkah rezeki dan kebahagiaan. Sekarang
beliau membagikan ceritanya kepada kami.
“Sebagian kita tidak kenal Allah.
Kalau mau beli motor, leasing.
Kalau mau beli mobil, kredit di bank.
Kalau kenal Allah harusnya yang dipikirkan
adalah bagaimana mengambil ridho Allah,”
ucap pak ustadz.
Yah, membeli kendaraan secara kredit
kan berhubungan dengan riba.
Baru di awal, kata-kata pak ustadz sudah nonjok.
Ust.
Andre berbicara juga berdasarkan pengalamannya sendiri. Pernah mengalami
kebangkrutan hingga kondisi tidak bisa membeli lauk bahkan sebutir telur ayam
sekalipun membuatnya kembali mendekat kepada Sang Pemilik Hidup.
Berikutnya,
beliau mempertanyakan, manakah yang penting buat kita:
- Keluarga atau yang lain-lain? Kalau keluarga lebih penting, seberapa banyak waktu yang dihabiskan bersama keluarga? Lebih banyakkah atau justru lebih banyak dihabiskan dengan yang lain-lain itu?
- Penting mana, Allah atau duit? Apakah waktu kita terlalu banyak dihabiskan untuk mencari duit bukannya mendekat kepada Allah?
Sering
kali urusan mencari rezeki membuat manusia stres. Padahal Allah yang berhak
memberikan rezeki. Kita memikirkan hal-hal yang bukan urusan kita dan melupakan
hal-hal yang seharusnya menjadi urusan kita.
Sumber: salimah.or.id |
Dalam
ceramah ini, ustadz Andre memaparkan 9 jenis rezeki, seperti juga yang
dijelaskannya dalam buku REZEKI LEVEL 9.
Sembilan level ini dibagi dalam 3 bagian besar:
REZEKI
LAZIM
Terdiri
atas:
- Rezeki level 1, yaitu rezeki yang dijamin.
- Rezeki level 2, yaitu rezeki yang dipaksakan.
- Rezeki level 3, yaitu rezeki yang diupayakan.
REZEKI
BUKAN KELAZIMAN
Rezeki
ini menghasilkan percepatan. Terdiri atas:
- Rezeki level 4, yaitu rezeki yang diminta.
- Rezeki level 5, yaitu rezeki yang ditransaksikan dengan amal saleh.
- Rezeki level 6, yaitu rezeki yang diperoleh karena melakukan apapun yang Allah perintahkan.
REZEKI
KEAJAIBAN
Terdiri
atas:
- Rezeki level 7, yaitu rezeki yang diperoleh dengan jalan keikhlasan.
- Rezeki level 8, yaitu rezeki yang diperoleh dengan jalan bersyukur.
- Rezeki level 9, yaitu rezeki yang diperoleh karena tidak bermaksiat kepada Allah.
Menarik,
ya?
Dari
4 jam materi yang diberikan ustadz Andre Raditya, saya ulas sedikit di
sini ya, Kawan. Kalau mau lebih jelasnya bisa cari buku REZEKI LEVEL 9.
Kita
mulai dari REZEKI
LEVEL 1. Pada level
ini, semua orang mendapatkannya tanpa diminta. Rezeki ini tanpa syarat. Semua
orang dapat. Di sini, tak ada urusannya pekerjaan dengan makan.
“Urusan makan tak ada kitannya dengan Anda S1, S3, atau SMA. Tak ada kaitannya dengan Anda berakal atau tidak. Mau Anda laki atau perempuan, beragama atau tidak, rezeki ini akan sampai kepada Anda,” ustadz Andre menjelaskan.
Yang
termasuk rezeki jenis ini juga adalah apa-apa yang tidak pernah kita pikirkan
berlangsung di dalam tubuh kita, seperti proses pencernaan, pernapasan, dan metabolisme
tubuh. Pak ustadz menunjukkan betapa repotnya diri ini kalau harus
memikirkan dan mengarahkan ke mana saja zat-zat yang terkandung dalam makanan (seperti
lemak, karbohidrat, dan protein) harus diarahkan di dalam tubuh ini. Tak akan
mampu, kan kalau bukan kehendak Allah?
Masih
ada beberapa contoh lain yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita tapi cukup
contoh-contoh di atas saja ya yang saya tuliskan di atas. Yang jelas,
contoh-contoh yang diberikannya menunjukkan betapa kerdilnya kita ini karena
bahkan untuk hal kecil sekalipun kita tak bisa mengaturnya. Untuk hal
sehubungan cuaca, kalau Allah tak berkehendak sekalipun, kita bisa apa.
“Teman-teman ketika berbisnis, cukup niatkan itu adalah ikhtiar Anda untuk keluarga Anda, ‘Ini adalah jalan saya menjemput rezeki.’ Kalau Anda kenal rezeki level 1, Anda akan menjadi orang yang tidak berkeluh-kesah,” pungkas ust. Andre.
REZEKI
LEVEL 2.
Rezeki
yang dipaksakan maksudnya adalah rezeki yang belum waktunya, “dipaksakan”
sehingga bisa dimiliki. “Belum sanggup beli motor atau mobil, mengusahakannya
secara nyicil,” pak ustadz menyebutkan contohnya.
Utang
adalah contoh lainnya. Berutang untuk mendapatkan atau membeli sesuatu, misalnya.
Namun harap diingat bahwa utang itu dibolehkan dalam Islam. Yang tidak boleh
adalah jika berunsur riba. “Jadi jangan salah musuh, ya,” tukas ustadz Andre.
Sebuah hadits menyatakan:
“Barang siapa yang memberikan pinjaman
kepada saudara muslim maka pahalanya
lebih besar daripada sedekah.”
[HR Riwayat Ahmad]
Namun
harap diingat, potensi
berbahaya dari rezeki level 2 ini besar. Karena dikhawatirkan, ketika memaksakan diri, ketemunya
dengan rentenir atau bank sehingga berunsur riba. Selain itu, orang-orang yang
memaksakan diri, berarti mereka membuang unsur kesabaran.
Sementara dalam al-Qur’an, Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman,
jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
[Al-Baqarah 153].
Kalau
seseorang sudah membuang kesabarannya berarti Allah tidak hadir bersamanya. Maka
hatinya tidak akan tenang. Duh, jleb lagi, Mak.
Maka berlakulah
yang disebutkan dalam sebuah hadits, “Barang siapa yang berutang, dia
akan menyimpan penyakit di dalam hatinya. Yaitu rendah diri di siang hari dan
gelisah di malam hari.”
Kalau
kepepet dan tidak bertemu orang yang tepat – paham syariah maka berutang
akan membahayakan diri sendiri. Kalau benar-benar kepepet datangilah BMT
atau bank syariah. Jangan terjerumus riba.
Pak ustadz
mengingatkan untuk mewaspadai rasa waswas – yuwaswisu fii sudurinnaas
yang bisa menjebak manusia untuk segera berutang atau mengambil kredit. Banyak
di antara kita bahkan sudah memiliki saldo di bank, sudah memiliki sejumlah
harta tetapi masih saja waswas akan keadaan masa depan.
Sementara
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memperlihatkan contoh bahwa beliau
tidak pernah punya tabungan berupa uang/harta, juga tidak pernah berutang.
Kalau tak ada makanan, beliau berpuasa bukannya meminjam duit. Duh,
masihkah kita mengaku ummatnya?
REZEKI
LEVEL 3
Rezeki
level ini adalah kawannya rezeki level 1. Rezeki yang diupayakan, adalah buah
dari rezeki level 1 (yang menentukan kepastiannya) – bergantung pada seberapa
banyak usaha dilakukan, sebagaimana firman Allah pada Qur’an surah Ar-Ra’d ayat
11:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah
keadaan suatu kaum sehingga
mereka mengubah keadaannya.”
Ketiga
jenis rezeki ini tidak ada kaitannya dengan seseorang kenal atau melibatkan Allah
ataukah tidak karena lazim. Allah menganugerahkannya untuk manusia. Bisa saja
seseorang yang tidak shalat memperoleh rezeki besar pada 3 level ini.
Mungkin saja seseorang tidak beribadah tetapi kalau produknya
terbaik, tempatnya strategis, marketing-nya oke, timnya solid,
pelayanannya prima, ya bisa saja produknya laku. Urusan hasil kadang-kadang
tidak ada urusan dengan kita melibatkan Allah atau tidak. Di sinilah berlaku
hukum “jika – maka”.
“Makan dua piring, nggak pake doa, ya kenyang tetapi
tidak berkah. Buka usaha di tempat strategis, tidak pakai bismillah,
tetap laku tetapi tidak berkah,” ustadz Andre menjelaskan. Sebagai
muslim, kita mencari bukan sekadar banyaknya tetapi keberkahannya juga.
Rezeki level 3 ini dalam dunia bisnis,
diturunkan menjadi rumus: BE x DO = HAVE.
BE itu seberapa kapasitas (ilmu, knowledge),
DO adalah action,
sementara HAVE adalah
apa yang akan kita peroleh.
Kalau ingin punya HAVE 100
tapi punya 1 BE
maka DO-nya harus 100.
Maka dari itu, jika ingin berhasil dengan DO yang sedikit maka
belajarnya diperbanyak. Kesuksesan orang yang bagi orang lain terlihat seperti sim
salabim – karena tuyul dan sebangsanya, bisa jadi dikarenakan BE
(kapasitasnya yang sudah bersar) makanya hanya perlu DO sedikit, so, jangan
berburuk sangka, ya.
Ibarat prinsip, kalau solusi di kepala hanya PALU maka semua
masalah di kepala kita hanya PAKU. Semua masalah dipukul. Ketemu tripleks dipalu
padahal harusnya digergaji, ketemu batu dipalu padahal harusnya digodam. Padahal
seharusnya solusinya disesuaikan dengan masalah yang datang. Di sini, rezeki
sangat dekat urusannya dengan ILMU.
Makanya Rasulullah menguatkan dengan ilmu dulu. Dikepung
wilayah Romawi dan Persia yang besar, Islam bisa menjadi besar karena ILMU.
Dari Qur’an, dihasilkan berbagai macam ilmu. Pada 13 tahun pertama, Rasulullah
dan para sahabatnya di-install ilmu oleh Allah sehingga kemudian bisa
menaklukkan semuanya. Kata ilmu dan turunannya adalah kata kedua terbanyak
dalam Qur’an. Hal itu menunjukkan kita bahwa siapa yang ingin “kuat” harus
memiliki banyak ilmu. Allah akan menaikkan derajat orang yang berilmu.
Makassar, 6 November 2018
BERSAMBUNG ke rezeki
level berikutnya.
Share :
huhu, artikel yg pas sekali untuk saya yang beberapa bulan terakhir ini selalu galau soal rezeki mbak. Thanks for sharing :)
ReplyDeleteTerima kasih sudah mampir di sini, Mbak.
DeleteTulisan ini sebagai catatan peringatan buat saya dan in syaa Allah untuk anak-cucu saya nanti. Alhamdulillah kalau bisa bermanfaat buat orang lain.
soal galau dan risau itu hal manusiawi. Dah harus galau, karena jika tidak galau bukan manusia namanya.
DeleteHehe iya, sih. Asalkan galaunya tidak berkepanjangan ya Mas Djangkaru
DeleteLevel dua itu, kalau dibahas lebih dalam akan ada hal menarik. Apalagi soal itu bank-bank. Suatu perdebatan yang menyenangkan. Dan pada umumnya terjebak pada bank syariah, sebenarnya ujung-ujungnya tetap saja bang konvensional.
ReplyDeleteAda perbedaan pendapat memang, karena untuk bank syariah dan non syariah, perbedaan mendasar pertamanya - sependek pengetahuan saya adalah pada akadnya yang tanpa melibatkan riba.
Deletegue mbayangin level selanjutnya kaya apa, kaya ap coba. terima kasih
ReplyDelete